Hutan Produksi Iligai Direhabilitasi



SUARA MATAHARI-Masyarakat Desa Iligai, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, NTT, melakukan rehabilitasi hutan dan lahan di area Gunung Iligai. Dilahan seluas kurang lebih 25 ha ini ditanami tiga jenis anakan pohon yaitu cendana, turi dan petai. 

Kegiatan ini diawali dengan pembukaan jalur atau larikan serta penentuan titik penanaman. Senin/16/12/2013, Kepala Dusun Baoletet, Desa Iligai, Kecamatan Lela, memimpin langsung kegiatan pembukaan jalur di area Gunung Newa dan Gunung Iligai.

Disaksikan Admin, kurang lebih 50 an warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Baoletet melakukan pembersihan lahan di lokasi penanaman. Ketua Kelompok Tani Baoletet, Yohanes Petrus Pu’an, kepada Admin mengatakan bahwa partisipasi Kelompok Tani Baoletet merupakan bentuk kepedulian masyarakat  untuk kelestarian hutan dan menghindari terjadinya longsor ketika bencana banjir dan gempa.

“Kita berkomitmen menjaga dan melestarikan semua jenis tanaman atau pohon di area Gunung ini. Kami tetap berharap pada pemerintah dalam hal ini Dinas Kehutanan Kabupaten Sikka, untuk bersama-sama mengawasi agar pertumbuhan cendana, turi dan petai butuh dapat tumbuh secara baik”, katanya di lokasi kegiatan.

Petugas lapangan Dinas Kehutanan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Solvius S Nong Din mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut pemerintah dalam menjaga hutan dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Selain itu untuk menghindari terjadinya longsor atau banjir di area tersebut.

Kegiatan ini disebut dengan peningkatan peran serta masyarakat dalam rehabilitasi hutan dan lahan yang termasuk dalam pekerjan pembuatan tanaman cendana tahun anggaran 2013.

Dilahan seluas 25 ha ini tambah dia, akan ditanami cendana sebanyak 11.000, petai 5.500, dan turi 11.000 pohon. Pekerjaan ini dimulai dengan pembersihan lahan, pembuatan larikan, pembuatan gubuk kerja, pembuatan piringan dan lubang tanaman, pengangkutan bibit ke lokasi tanaman, penanaman dan perawatan.

“Ini menggunakan APBD Sikka 2013 senilai Rp. 60. 750.000”, katanya Senin/16/12/2013. 

Nong Din berharap agar adanya kepedulian masyarakat setempat untuk tetap menjaga dan merawat semua tanaman. Bukan saja yang baru ditanam tetap secara umum. 

Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya banjir dan tanah longsor atau yang berdampak bagi masyarakat. 

“Saya berharap kegiatan berhasil, tanam bisa tumbuh dengan baik. Pengawasan untuk perawatan dilakukan rutin untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan hutan” harapnya. (Sumber Suara Flores/Admin). 
Share:

Pater Felix Baghi: Siapa dan apa legislatif ideal itu?

SUARA MATAHARI-Legislatif ideal itu seperti apa? Adakah legislatif ideal? Ideal/ide·al/ /idéal/ artinya sangat sesuai dengan yang dicita-citakan atau diangan-angankan atau dikehendaki.

Dari arti kata ideal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dikaitkan dalam momentum politik pemilihan kepala daerah dan legislatif.  Pemimpin ideal dapat dilihat dari berbagai pandangan. Di sana ada banyak pemahaman. Ideal menurut publik dan ideal menurut fungsi legislator, di mana ia bekerja. 

Bukan menurut individu tertentu atau bukan menurut kelompok terbatas. Penetapan legislatif ideal di Negara ini, masih menurut partai, menurut agama, atau menurut kelompok sosial di mana ia beradaptasi. 

Pater Felix Baghi mengatakan bahwa realitas politik di Indonesia pasca reformasi dilihat dari 2 sisi yaitu apresiasi dan potret buram. Apresiasi terhadap perkembangan politik yang sudah terjadi di Negara Indonesia, setelah rezim soeharto menjabat 32 tahun atau memasuki masa reformasi. Di sana ada banyak hal dilihat sebagai sebuah kemajuan. Katakanlah, soal kebebasan yang secara demokrasi mengungkapkan niat hak-hak untuk kepentingan bersama. 

Legislatif yang ideal adalah legislatif yang setia pada Pancasila dan UUD 45. Dia takut pada Tuhan dengan menujukan kepemimpinan yang baik di segala pandangan masyarakat. Dia juga harus disiplin serta memiliki tanggungjawab terhadap publik sesuai dengan peran dan kedudukannya. Di sana, calon pemimpin harus memiliki keutuhan yang kuat serta moral yang baik di tengah masyarakat sehingga dia boleh menyandang gelar pro pada rakyat. 

Dia menambahkan bahwa pemimpin yang ideal harus berpihak pada alam dan lingkungan sekitar dan juga profesionl sebagai politikus. Tidak hanya beramai-ramai mencalonkan diri, tapi harus siap sedini mungkin. Agar, ketika dipilih, dia memiliki semangat kerja (etos kerja), karena dia paham pada tanggungjawabnya. 

“Dia bertanggungjawab, karena memiliki wawasan yang luas, memiliki pemahaman yang cukup untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat NTT dan Indonesia. Selain dari pada itu, legislator yang ideal itu harus memiliki budaya malu. Dia harus sadar dan mengakui, jika kemudian dia terjebak dalam berbagai kasus.” kata Pater Felix Baghi dihadapan ratusan peserta seminar di Pelita Hotel Maumere Kabupaten Sikka. 

Felis Baghi mengatakan, pemimpin ideal harus pluralis dan multikuturalis. Harus memiliki kecerdasan emosional, kecerdasan pikiran dan kecerdasan sosial. Hal ini dimaksudkan agar ia tidak bungkam atau diam saja dalam proses pengambilan keputusan di legilatif. Namun kemudian, kondisi ini, nampak terlihat belum sempat dimiliki oleh semua calon lebislatif kita saat ini.  

“Untuk itu calon pemimpin harus terlibat aktif dalam berbagai kegiatan. Penting dilakukan untuk membentuk karakter kebersamaan, kesetiaan menjadi pemimpin rakyat yang baik dan mengerti akan tugas dan tanggungjawabnya. Calon pemimpin mesti realistis dan apa adanya. Tidak mengaggung-aggungkan dirinya, tidak meanggungkan hartanya sehingga tidak dikatakan materialistis. Cermati dan pahami, lalu tentukan pilihanmu yang ideal,” katanya. (Sumber Tabloid Suara Flores/Admin).
Share:

Firman Ardiansa, Bintang Voli Rokatenda Cup


SUARA MATAHARI-Firman..Firman..Firman, begitu sorak penggila bola voli menyambut keuletan Firman dalam mengolah bola di atas net Rokatenda Cup I 2016. Suara sorak ini menggema dari luar lapangan Kelurahan Hewuli yang membludak pada laga semi final yang berlangsung antara Klub Brisat vs Klub Lado Laka, Sabtu/18/06/2016 malam.  

Pria bernama lengkap Firman Ardiansa merupakan kelahiran 05 April 1996 di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Blasteran Wolowaru Ende dan Kefa ini adalah pemain voli andalan Klub Brisat Maumere. Ia disebut sebagai bintang Voli pada Turnamen Rokatenda Cup I 2016.

Memiliki tinggi badan kurang lebih 2 meter. Kehadiran pemain bernomor punggung 7 menjadi ancaman bagi pemain voli klub lainnya. Kecekatan dan kecepatan dalam mengolah bola selalu menyumbangkan poin untuk tim jagoannya. Setiap kali melakukan spait akan membongkar pertahanan lawan dan menyumbang poin. Penonton pun bersorak-sorak melihat tempo permainan mahasiswa Universitas PGRI Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini.

Mahasiswa semester 5 jurusan Penjakes ini didatangkan oleh manajer Brisat untuk mendukung Klub Brisat. Menurut teman setimnya, Darius Hidi Pati alias Rodos, pria dengan nama popular Firman ini telah berlatih bola sejak kecil. Posturnya sangat mendukung untuk menjadi pemain voli. Pada umur 20 tahun ini, Firman telah bermain pada berbagai turnamen di NTT dan di Semarang Jawa Tengah, tingkat Universitas PGRI.  

Malam nanti, Minggu/19/06/2010 pukul 19:00 wita, Firman bersama Melky, Koko dan Rodos, cs akan bermain di laga grandfinal memperkuat tim kebanggan Brisat Maumere melawan Klub Roket. Gaya mengolah bola dengan tenang, spait yang keras membuat penonton tak henti-henti meneriaki namanya. Firman.. Firman.. Firman.. Begitu reaksi penonton menyambut keuletan Firman dalam bermain Bola Voli. (Admin).
Share:

"Kelabu Di Sarang Penyamun"


Manusia diciptakan untuk berpasangan
apakah mendapatkan pasangan sebagai kawan, musuh, selingkuhan atau suami
aku bersyukur jika dalam kesendirian
diciptakan sosok kawan dari tulang tanganku.

sosok yang aku hormati dan sayangi
yang ku lindungi jika ada yang menjatuhkannya
yang ku suapi ketika tak berdaya
dan ku rawat jika tak bisa merangkak

raut wajah lugu yang memancarkan ketulusan
mendukung keputusan dan memotivasi etos kerjaku
meng-amin-i hubunganku dengan calon suami
serta memberikan solusi jika terjadi eror dalam jalinan asmara

namun nampaknya intensitas bicaramu dengan DIA
menimbulkan tanda tanya
kau mendukung kami, tapi juga berkata lain di belakang
dengan alasan "ngobrol biasa"

senang hatiku ketika kau berujar
jikalau dirimu tak merespon dan menganggap penting nada bicaranya
q suka jika memang itu gayamu
memberikan kepastian dan dukungan moril bagiku

namun kabar burung berkicau tanpa nada
mereka mengabarkan jika bukan aku belahan jiwamu
kau berteriak jika berpasangan dengan temanku
pedihku teriakan itu sampai pada kawan dan teman karibmu

nelangsa dalam hatiku bukan karena apa-apa
hanya saja kenapa tak kau ucap jika dia memilihmu
kau teman macam apa?
yang memakan temansendiri

nelangsaku, kamu teman baikku
alangkah lucu apabila pertemanan bubar
hanya karena lelaki macam dia
teriris hatiku karena kau tak bilang dengan mulutmu sendiri

tak mungkin aku melarang kalian
jujur tak bayar bahkan tak kena tilang juga
jujur juga tak dikenakan pajak
jujur lebih indah dibanding menjadi penyamun di rumah sendiri...(Tsu/Admin)

Share:

Pelajar SMP, Mengais Rezeki Dalam Kejaran Polisi





MAUMERE, SUARA MATAHARI-Pendidikan itu mahal seiring dengan gencarnya pemerintah dalam kampanye pendidikan 9 tahun. Rakyat dituntut agar mampu mengeyam pendidikan hingga tingkat atas. Menindaklanjuti kondisi ini, masyarakat pelajar di Kabupaten Sikka, Flores pun berjuang keras. Sejumlah pelajar rela mengais rejeki diramainya kendaraan dan kejaran Polisi Pamong Praja.  
                             
Apa yang tengah dilakukan para pelajar semata untuk menggapai cita-cita ketika pemerintah belum sempat menyentuh. Ini menunjukan bahwa para pelajar peduli akan masa depan hidup. Pastinya mereka sadar bahwa ditengah meningkatnya kebutuhan hidup dan melonjaknya biaya pendidikan butuh semangat juang dari dalam diri.

Para pelajar ini pun seakan mengajak semua orang untuk bekerja keras demi pentingnya pendidikan, bertahan hidup dan juga untuk mendapatkan hak dan memenuhi kewajiban sebagai warga Negara.

“Warga negara harus kerja keras, sekolah yang rajin agar mampu hidup diera pembangunan yang canggih dan tuntutan jaman. Kalau tidak ya kita jual ikan terus dan terus dikejar” kata seorang warga Kelurahan Waioti usai pulang jualan ikan di jalan negara wilayah tersebut.  

Fakta ini sudah lama terjadi dan dialami sejumlah pelajar di Kota Maumere, Kabupaten Sikka. Bersama orang tua, mereka rela melanggar aturan dengan berjualan ikan di lalulintas  kota atau jalan Negara. Kondisi ini dilakukan kala orang tua tak kantongi banyak uang untuk biaya pendidikan.

Bagi Anda pendatang pasti menyaksikan aksi kejar rejeki saat injakan kaki di Bandara Frans Seda. Mereka mengejar pembeli (pengendara,red) di sepanjang jalan Negara, tepatnya di Kelurahan Waioti Kota Maumere. Setiap sore, kurang lebih pukul 15:30-16:00 wita, pelajar ini berada di sana sambil tenteng sejumlah ikan.  Di sana mereka menawarkan berbagai jenis ikan segar kepada para pengendara yang melintas.

Ditengah arus kendaraan yang ramai, di antara ngebutnya pengendara saat pulang kerja atau kembali ke rumah. Mereka isi kesempatan, menjemput rejeki dari warga yang mungkin enggan ke pasar atau malas ke tempat penjualan ikan.

Dari sekian banyak warga yang menjual ikan di jalan Negara tersebut, tampak sejumlah pelajar SD, SMP dan pelajar SMA. Memanggil-manggil pengendara, menawarkan berbagai jenis ikan, menjemput rupiah dari kantong pembeli.

Mereka mencari rejeki, membantu orang tua atau mendapatkan pembagian hasil jualan ikan milik sejumlah nelayan kecil. Menurut mereka, aksi kejar rejeki pada jalur merah, menjadi salah satu pilihan mengais masa depan sebelum matahari terbenam. Mungkin benar, lokasi tersebut sangat strategis, banyak lalulalang warga di sana.

Rejeki yang mereka peroleh tergantung pada hasil jualan. Harga pun bervariasi tergantung jenis ikan, jumlah ikan dan ukuran ikan. Dari 10 ribu, 20 ribu hingga 50 ribu bahkan 100 ribu rupiah.

Satu ikat kami dapat 2 ribu rupiah. Dari jam 15:00 atau 16:00, kami berhasil menjual 15 ikat hingga 20 ikat. Uang yang kami dapat untuk kebutuhan transport ke sekolah menggunakan angkot maupun ngojek. Kalau hasilnya banyak, kami simpan untuk kebutuhan yang lainnya” kata viky, salah satu pelajar kelas II SMP Yapenthom Maumere saat di temui Admin belum lama ini di Waioti.

Mencari rejeki di tempat umum atau jalan raya memang menantang maut. Lajunya kendaraan membuat mereka harus ekstra hati-hati agar meraih rejeki yang banyak dan selalu selamat. Langkah itu menjadi salah satu pilihan untuk mendapatkan biaya pendidikan seusai pulang sekolah.

Tidak hanya mengancam nyawa, mereka pun sering disergap Anggota Polisi Pamong Praja (Pol PP). Saat disergap, mereka lari tunggal langgang, selamatkan diri, meninggal ikan. Kadang-kadang ikan-ikan tersebut disita Pol PP, entah untuk apa dan ke mana dibawa pergi. Sering dikejar tapi mereka tidak menyerah. Seakan melawan dengan terus berjualan di daerah terlarang itu.

Pantauan Admin, Sabtu/01/10/2017 di Waioti, tepat di sebelah timur Kampus Muhamdya Maumere, sejumlah penjual ikan dan para pelajar menawarkan ikan kepada para pengendara. Mereka sering disusir Anggota Pol PP dan pihak Polantas yang tengah menjalankan tugas yang dilimpahkan pimpinan daerah. Rupanya mereka tengah menertibkan dengan maksud menjaga keamanan dan kenyamanan nyawa mereka dan pengendara.

“Om..jangan ambil kami punya ikan. Boleh larang kami jualan di sini tapi jangan bawa kami punya ikan, Om. Kami jualan hanya sore hari. Suru saja kami pulang atau jualan di lorong saja. Jangan bawa kami punya ikan” kata sejumlah penjual ikan saat disergap Anggota Pol PP

Faldi, penjual ikan lain mengisahkan bahwa menjual ikan merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan uang. Perolehan hasil pun tergantung pada kondisi cuaca. Hasil penjualan ikan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga. Orang tua hanya nelayan kecil yang bersandar pada hasil laut. Sering kesulitan jika angin laut menghadang.

“Kami jual di sini setiap sore ini untuk biaya ke sekolah besok. Kalau jual di pasar kan banyak penjual ikannya. Bisa saja, ikan-ikan ini tidak laku. Kalau polisi kejar, kami lari ke lorong-lorong atau pulang ke rumah” kisah siswa SMP Yapenthon kelas I ini dengan nada sangat berani. (Admin/Suara Flores).
Share:

Mencari Pemimpin Ideal Bukan Pekerjaan Mudah


Mencari Pemimpin Ideal

SUARA MATAHARI-Ketua Kerukunan Keluarga Besar Maumere (KKBM) di Kupang, Drs. Kristo Blasin beranggapan bahwa sulitnya menemukan pemimpin ideal. Mencari pemimpin ideal bukan sebuah proses yang mudah. Tidak semua orang mampu menjadi pemimpin ideal. 

Lihat saja, kondisi bangsa ini mengisyaratkan bahwa masyarakat hampir tidak percaya lagi dengan para pemimpin atau calon pemimpin. Berbagai masalah sedang terjadi, menggeroti mereka. Dari Makamah Konstitusi, sampai di daerah-daerah, terjadi persoalan dengan pemimpin. Hal ini membuat rakyat semakin bertanya-tanya, seperti apakah pemimpin ideal itu?

Krito Blasin mengatakan bahwa bangsa ini bisa dibangun dari daerah-daerah, tidak hanya dari pusat. Oleh karena itu, bagi masyarakat pemilih, harus paham dan mengerti apa yang dilakukan pemimpin ketika dipercayakan rakyat. Banyak tantangan atau  godaan yang mestinya harus dipelajari jauh-jauh hari sebelum menjadi pemimpin sebuah daerah.

“Menjadi pemimpin yang ideal, tentu tidak serta merta tumbuh begitu saja. Tapi melalui proses panjang. Butuh pembinaan, butuh pengkaderan. Ini dimaksudkan agar calon pemimpin paham akan kedudukan dan tugasnya,” katanya ketika membuka kegiatan seminar sehari di Pelita Hotel Maumere, Selasa/29/10/2013.

Kristo mengatakan, menjadi pemimpin, harus berani, harus memiliki prinsip dan komitmen pembelaan terhadap rakyat. Harus baik dan berguna bagi rakyat. Harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan/kreatif. 

“Menjadi pemimpin, melayani rakyat bukan melayani kepentingan diri sendiri atau kelompoknya. Ini problem yang sedang terjadi di bangsa ini, karena banyak orang  terjebak untuk kepentingan golongan. Mereka hanya membela kepentingan kampung halamannya” katanya. (sumber tabloid suara flores/Admin).

Share:

Cerita Kegagalan dan Prestasi Caleg




SUARA MATAHARI-Salah satu calon legislatif dari Partai K Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggar Timur, Iknatius mengatakan, menjadi pemimpin yang baik itu melalui proses panjang dan harus panjang sabar. Proses yang tumbuh dan hidup dari waktu ke waktu melalui kritik dan usul saran banyak otak. Dari sanalah karakter dan mental dibentuk sehingga yang tidak pura-pura menjadi orang baik, tanpa proses, melewati lika liku perjuangan dari masa ke masa. 

Di sana, ada pembinaan mental secara formal dan non formal. Baik, dilakukan di dalam organisasi maupun di luar oganisasi ataupun melalui diskusi-diskusi bersama masyarakat. Hal ini harus berjalan baik agar calon pemimpin mampu menjadi pelayan yang tidak pura-pura. Menurutnya, saat ini banyak sekali para pemimpin yang pura-pura merakyat, tapi "lupa" merakyat ketika dipercayakan rakyat. 
 
“Proses pendidikan politik dan pembinaan karakter saya jalani sejak tamat SMA. Saya masuk Partai K sejak tamat SMA. Dari organisasi lingkup kecil hingga organisasi lingkup luas, sudah, sedang dan akan terus saya jalani. Banyak pengalaman saya lalui, baik tantangan maupun keberhasilan,” akunya. 

Iknatius mengaku sudah 20 an tahun bergabung di Partai K adalah sangat cukup. Proses yang memberikan banyak pengetahuan. Komitmen untuk menjadi wakil rakyat pada lingkup yang lebih besar pun lahir. 

Ia pun diberikan kepercayaan untuk mengambil bagian dalam perhelatan politik legislatif. Proses berbicara bahwa tidak muda menjadi pelayan yang merakyat sehingga dirinya belum mendapat kesempatan mewakili rakyat.

"Proses ini menjadi pengalaman sangat berharga yang harus saya lalui. Saya bangga karena saya menjadi pelaku demokrasi yang mengajak saya untuk terus hadir di tengah masyarakat" katanya.

Iknatius bukan hanya anggota Partai K. Ia pun dipercayakan masyarakat memimpin sebuah perusahaan besar. Ia telah Menjadi kepala desa selama 9 tahun lebih. Dia juga menjadi pemimpin kelompok-kelompok tani di desa yang mengantarnya mewakili Kabupaten Sikka bertemu presiden SBY di istana Negara, menerima penghargaan terkait keberhasilan dalam mengelolah kelompok tani. 

Selain itu, Ia pun dipercayakan oleh anggota koperasi menjadi wakil ketua koperasi kredit Hiro Heling. Dia pun menjadi pengurus gereja yang telah berpuluh tahun. Masih banyak posisi tawarnya yang dikehendaki oleh masyarakat di Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka. Nama Iknatius boleh dikata tidak asing lagi bagi masyarakat di wilayahnya bahkan di luar.

Dengan berbagai pengalaman ini, ia yakin bahwa pemimpin yang baik dan berkualitas itu tidak lahir begitu saja. Tidak pura-pura lahir melainkan melalui proses. Oleh karena itu, dengan berbagai jaringan dan pengalaman organisasi yang saya geluti selama ini, saya percaya, rakyat mampu membedakan pemimpin yang pura-pura berkualitas, mencuri hak rakyat dan pemimpin yang matang dalam proses,” katanya ketika ditemui suaraflores.com, Senin/14/10/2013.

Dia mengatakan, begitu banyak dan begitu lama, para pemimpin atau wakil rakyat kita mengubar-ubar janji. Janji-janji hadir bagai embun yang datang di pagi hari, lalu hilang kala matahari bersinar. “Menjanjikan kepada masyarakat seakan-akan kabupaten sikka merupakan perusahaan pribadi yang dengan seenaknya mengambil dan memberi. Mari mendekatkan diri dengan masyarakat tanpa harus basa-basi dengan janji, karena janji adalah proses bual yang panjang dan sakit hati diterim masyarakat,” katanya tersenyum. (Admin).
Share:

Menanti Calon Pemimpin Yang Harmonis

SUARA MATAHARI-Banyak kepemimpinan di banyak wilayah di Indonesia tak mampu menciptakan kondisi yang harmonis hingga diakhir kepemimpinan. Pasangan pemimpin terlihat “saling sikut” yang diduga karena perbedaan pendapat atau kepentingan. Fakta ini dapat melahirkan carut marutnya pembangunan pada wilayah yang dipimpin sehingga pembangunan berpotensi berjalan lambat.

P. Nona, perempuan Flores NTT menegaskan bahwa kepemimpian yang demikian adalah ciri pemimpin yang mencari “keuntungan” personal. Mereka saling gontok-gontokan karena kepentingan personal, kelompok atau golongannya tidak terpenuhi. Atau tidak adanya keadilan dalam pembagian jatah karena yang lain merasa lebih “berjasa” atau lebih besar pengorbanannya. Hal ini menimbulkan perbedaan pendapat atau saling bertolak berlakang, saling cuek atau malas tahu untuk saling menanggapi. Sisi lain, dapat disimpulkan karena perbedaan pemahaman dalam pengambilan kebijakan dalam pembangunan.

“Ciri pemimpin seperti ini harus dihindari. Rakyat (pemilih,red) harus memahami dan mencaritahu karakter calon pemimpin karena pemimpin yang dipilih harus menyerahkan diri sepenuhnya melalui pembangunan yang harmonis. Saya berharap, siapapun calon pemimpinnya harus melepaskan sikap egois dan gontok-gontokan yang merugikan rakyat” ungkap Nona kepada Admin dalam sebuah diskusi lepas.

Oleh karena itu, kata dia, para pemilih harus mampu keluar dari kondisi ini dengan melihat pemimpin berciri harmonis. Pasangan pemimpin tidak menghabiskan masa jabatannya dengan urusan pribadi atau golongan tetapi serius dan mampu “mendiagnosa” wilayah yang di pimpin. (Admin). 
Share:

Ciptakan Anak Yang Cerdas, Cerdas Pasti Pintar




SUARA MATAHARI-Kelompok kesehatan dan kelompok pendidikan mengharapkan agar para guru dan orang tua di Indonesia harus mampu menciptakan anak-anak yang cerdas. Bahwa anak-anak yang cerdas adalah anak-anak yang pintar. Anak-anak yang pintar belum tentu cerdas. Karena itu pola makan anak-anak harus menjadi perhatian khusus bagi orang. Para guru pun harus selalu memberi perhatian kepada orang tua agar dapat mengatur pola maka bagi anak-anak. 
Share:

Pola Makan Dan Kualitas Pendidikan Anak


SUARA MATAHARI-Untuk mendorong kualitas pendidikan anak dibangku sekolah dan di rumah maka harus ada kerjasama antara orang tua dan guru. Hal ini dimaksudkan untuk mendapat pendidikan yang berkualitas dan harus didukung dengan nalar pendidik yang sehat pula. Nalar yang sehat dibutuhkan konsumsi makanan yang teratur dan sehat pula. 

Kata Wakil Bupati Sikka, Paolus Nong Susar dalam setiap kesempatan bertemu dengan para pelajar dan orang tua di Kabupaten Sikka. Menurut Nong Susar, perhatian terhadap dunia pendidikan melalui anak-anak harus menjadi tugas pokok orang tua dalam memenuhi hak-hak anak seperti mengkongsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Bahwa melalui pola makan-makanan yang sehat dan bergizi, anak-anak sebagai generasi penerus akan menjadi lebih baik cara berpikir mereka.

“Asupan makan dapat memengaruhi otak anak-anak maka mari kita perhatikan pola makan bagi anak-anak kita. Pastikan mereka makan pagi setiap sebelum ke sekolah. Makan pagi harus seperti raja sehingga mereka tidak lapar, ngantuk di sekolah yang mengakibatkan otak mereka tidak menyerapkan pelajaran” harap Nong Susar.

Nong Susar menjelaskan bahwa ada 4 kecerdasan yang harus dimiliki oleh anak-anak antara lain, emosional, spiritual dan intelektual, phisikal. Dari 4 bentuk kecerdasan ini, kecerdasan phisikal menjadi kunci untuk melaksanakan kecerdasan lainnya.

“Kita cermati budaya atau tradisi kita ketika bangun pagi tidak makan langsung ke sekolah. Sumber daya kita akan lebih baik jika kita makan pagi yang teratur. Setiap anak murid sebelum ke sekolah harus makan pagi. Makan pagi sangat penting bagi kesehatan otak. Ada istilah kesehatan menyebutkan bahwa makan pagi bagaikan raja, makan siang bagai pekerja, makan malam bagaikan pengemis.

“Karena itu, saya menghimbau kepada semua guru untuk menyampaikan kepada orang tua murid agar menyediakan makan pagi yang lengkap bagi anak-anak” harap Mantan Wakil Rakyat Sikka ini.   

Hal lain ditekankan oleh, salah seorang aktivis kesehatan, bahwa bicara tentang kesehatan, tidak ada istilah beras habis, jagung habis atau lainnya. Tetapi yang kita bicarakan adalah karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral. Air, kita butuhkan setiap saat. Jangan lupa minum air. Makan-makanan yang berserat seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.

Berbicara kualitas pendidikan, kata dia, kita dihadapkan dengan kualitas kesehatan. Anak tidak makan pagi lalu ke sekolah tentu saja lapar bahkan ngantuk. Kalau lapar dan ngantuk maka anak tidak kosentrasi untuk menerima materi yang diajarkan oleh guru-gurunya. “Makan pagi harus teratur, harus lengkap. Makan pagi memberikan energi pertama dalam menjalankan aktifitas” jelasnya.

Sedangkan makan siang melanjutkan kerja pagi. Makanlah secukupnya, jangan membiarkan dirimu kelaparan. Kalau makan malam bagai pengemis, artinya kita makan seadanya. Makan apa adanya. Pada malam hari, kita tidak makan juga tidak apa-apa. Karena malam hari kita tidak aktifitas lain lagi atau energi yang dibutuhkan pada malam hari hanya untuk bernapas. Cukup minum air putih. Akan tetapi jika ada aktifitas rutin yang dijadwalkan maka siapkan makanan secukupnya untuk mampu beraktifitas pada malam hari. (Admin).
Share:

Perempuan Diantara Adat Dan Modernitas



SUARA MATAHARI-"Belis”, satu kata yang mengandung berjuta makna, tergantung cara pandang masing-masing insan Tuhan.  Belis, sebuah kata yang tak asing lagi bagi masyarakat NTT. Ketika kata tersebut terngiang di telinga kita, tak perlu lagi mendefinisikannya secara rinci. Dengan sendirinya dapat dimengerti dan dipahami oleh akal. Begitu cepatkah kata belis terserap dalam pemikiran kita? Ya, itu fakta, dan secara logika, kata tersebut seakan telah terasionalisasi dalam otak kita dan mengakar dalam kebudayaan secara turun temurun.
  
Tak jarang, ketika sedang duduk-duduk dipinggir jalan, maupun berjalan di trotoar, pemandangan yang sudah lazim, terkadang melintas di depan mata kita. Antara mobil truk dan mobil pick up, melaju beriringan bermuatkan beberapa ekor kuda, kambing, babi, beberapa karung beras, beraneka macam buah-buahan. Bahkan beberapa lelaki yang sudah berumur mengenakan kain adat  khas Sikka pun turut di dalamnya sambil memainkan gong waning (alat musik orang daerah). Tak perlu bertanya lagi, “Ada apa gerangan?”, karena jawabannya pasti “Belis”.

Belis serta dampaknya dalam pernikahan memiliki hubungan yang sangat erat dan  penting. Tak dapat dipungkiri lagi, belis telah menjadi persoalan keluarga  yang bersangkutan dan bahkan menjadi perhatian masyarakat kabupaten Sikka pada umumnya.

Secara sederhana, kita pastinya sepakat bahwa seorang lelaki dewasa yang ingin mempersunting wanita pujaannya, wajib bertanggung jawab kepada keluarga wanita terkhususnya orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan sang wanita dengan kasisayang. Sikap tanggung jawab ini, oleh masyarakat Kabupaten Sikka ditunjukkan melalui pemberian belis kepada orangtua wanita yang dianggap sebagai imbalan balas budi terhadap jasa orangtua wanita.

Namun mengapa pemberian belis seringkali disalah artikan oleh sejumlah besar masyarakat? Seringkali, dengan adanya belis, muncul berbagai persepsi keliru, diantaranya; harkat dan martabat calon mempelai wanita disepelekan, serta keluarga wanita seringkali dikucil. Keluarga prialah yang menganggap paling berperan. Paling fatal adalah ketika masyarakat Sikka berasumsi bahwa belis telah dijadikan sebagai objek komersialisasi terhadap wanita.

Tidak hanya menyangkut pandangan serta asumsi masyarakat, belis juga berdampak lanjut dalam kehidupan berkeluarga. Dan hal fatal yang sering terjadi adalah ketika kurangnya pemahaman dari suami yang beranggapan bahwa istrinya telah ‘dibeli’ menggunakan belis, maka apapun yang suami lakukan, itu adalah wewenang suami sebagai kepala rumah tangga. Kata “kepala” dalam kalimat kepala rumah tangga yang definisinya telah disalah artikan oleh suami telah menyebabkan banyak penderitaan bagi istri dalam kehidupan perkawinan baik dari segi fisik maupun psikologis. Seorang kepala rumah tangga seringkali bertindak seturut kemauan hatinya. Dia memerintah istri sewenang-wenang, bertindak kasar bahkan main tangan jika tidak menuruti kemauannya, dan seringkali  istri dijadikan  budak  nafsu  oleh  suaminya.

Wanita seringkali dianggap sebagai makhluk Tuhan kelas dua yang lemah dan tak berdaya, seringkali tidak diberikan hak dalam mengambil sebuah keputusan.  Namun demikian, seluruh pekerjaan rumah tangga dibebankan kepada wanita, wanita bagai gurita yang memiliki banyak tangan. Menunaikan tugas bersifat rangkap. Mulai dari mengandung, melahirkan anak, memelihara atau membesarkannya, serta mengurusi segalah pekerjaan  internal  rumah tangga.

Bukankah dalam pernikahan suci, kedua insan yang telah dipersatukan oleh Tuhan harus saling menyayangi dan menghargai?  Pernikahan suci adalah sebuah alat pemersatu dua insan yang berbeda. Berbeda berarti memiliki kekurangan dan kelebihan, baik dalam sifat, kemampuan, cara memandang suatu masalah, cara bernalar, cara menempatkan diri hingga cara membangun relasi yang baik dengan sesama. Karena tiada manusia yang sempurna, maka hendaknya dengan perbedaan yang ada, suami dan istri berusaha saling melengkapi dengan kasih sayang. Semakin suci perkawinan, seharusnya semakin pekah terhadap keretakan-keretakan yang mencuat.

Kaum adam yang telah menjadi seorang suami hendaknya menghargai perkawinan suci tersebut dengan jalan menghargai hawanya. Wanita sering ditindas, serta selalu menjadi mangsa keganasan. Mungkin karena sifat mereka yang lemah lembut, maka golongan ini sering dijadikan alat untuk melepaskan geram atau hawa nafsu.    

Wahai kaum adam, tidakkah pernah terpikirkan oleh kalian akan hal ini. Bahwa dalam perkawinan, seorang wanita mengubah namanya, meninggalkan rumah serta keluarga yang dicintainya untuk mengikutimu. Kemudian mendirikan rumah bersama-sama dan mengandung anak untukmu. Kehamilan menghancurkan tubuhnya. Ia menjadi gemuk, tubuhnya tak seindah saat ia belum menjadi istrimu. Dan hampir menyerah dalam perjuangannya yang penuh penderitaan dan kesakitan yang dilaluinya saat melahirkan.

Selain itu, wanita selalu bangun tengah malam untuk menyusui anak yang menangis kehausan, dikala dirimu mengabaikan dan melanjutkan tidurmu. Membuat matanya sayu dan pipinya cekung serta badannya kurus karena kurang tidur. Dan pada hari ia menutup mata, semua yang ia lakukan semata-mata menguntungkan kaum adam. Jadi, apakah hidup seorang wanita harus dikorbankan untuk kepentingan kaum adam?  Masihkah dipandang sebagai makhluk kelas?

Selain disebabkan oleh pemahaman keliru, peran belis juga dapat berpengaruh. Namun tidak semata-mata menyalahkan belis sebagai penyebab penindasan wanita dalam kehidupan rumah tangga, apalagi berusaha meniadakannya dalam sistematika dan struktural kehidupan. Karena belis adalah adat yang secara turun temurun diwariskan oleh nenek moyang, dan karena adat istiadat juga tidak dapat dimusnahkan ataupun diciptakan kembali, melainkan perlunya inovasi untuk melestarikannya agar tak terkikis oleh egonya modernisasi.

Perlu dilakukan adalah bagaimana mengubah pola pemikiran masyarakat yang sempit serta keliru akan fungsi dan makna dari belis itu sendiri, baik dalam kehidupan berumah tangga maupun dalam membangun relasi antar keluarga pria dan wanita.

Cinta memang tidak diukur dari barang namun perlu adanya penghargaan terhadap keluarga wanita melalui belis. Belis merupakan bukti pertanggungjawaban seorang lelaki yang ingin mempersunting wanita yang dipujanya. Belis hendaknya dijadikan sebagai alat mempererat dan mempersatukan  hubungan kedua  rumpun keluarga. Hal itu dilakukan agar terciptanya suasana harmonis dan saling mengerti.

Oleh  sebab itulah, marilah kita memutuskan mata rantai polarisasi pemikiran yang keliru mengenai  derajat wanita. Benazir Bhutto, seorang perempuan pertama yang memimpin sebuah Negara Islam di era modern. Selama berkuasa, ia berusaha memperbaiki nasib perempuan dan lapisan termiskin di Pakistan. Wanita yang tak kalah gigihnya adalah Mary Wollstonecraft yang merupakan perintis politik feminis yang secara berani menolak berbagai batasan dan nilai yang diterapkan bagi kaum perempuan dan cara hidupnya oleh masyarakat Inggris pada abad kedelapan belas. Tulisan dan perilakunya menimbulkan amarah di masanya, namun ia diakui sebagai pionir dalam perjuangan hak-hak perempuan.

Di Indonesia, Megawati Soekarnoputri adalah sosok perempuan dengan pencapaian politik tertinggi yakni menjadi presiden kelima RI (periode 23 Juli 2001-20 Oktober 2004) dan menempati posisi kedelapan dalam daftar 100 wanita terkuat di dunia. Telah banyak wanita-wanita di dunia yang berani memperjuangkan haknya dan tak pernah mau mendiami ketakberdayaan aturan yang dibelenggu ego dengan kepatuhan semata.

Di zaman modern ini, janganlah masih ada lelaki yang beranggapan bahwa tempat wanita hanyalah di sumur, di dapur dan di kasur. Sudah waktunya wanita harus bangkit dan membuktikan bahwa tempat wanita adalah dunia yang terbentang luas, dimana wanita akan selalu berpacu dalam waktu, membiarkan mimpinya mengembara dan bertransformasi menjadi kenyataan yang telah dicita-citakannya di era modernisasi. Wanita diciptakan berpola pikir intuitif dan konkret bukan untuk diambil hak berpendapatnya dan menjadikannya hanya sebagai pelaksana keputusan, melainkan turut serta menyertakannya dalam pengambilan keputusan. Wanita diciptakan dari rusuk adam bukan untuk ditempatkan dalam posisi yang lebih rendah (subordinat) melainkan setara dan sederajat. Tubuh wanita diciptakan indah serta  lemah gemulai bukan untuk  dikasari melainkan dikagumi.  Wanita diciptakan lemah lembut bukan untuk dijadikan sebagai mangsa keganasan dan penindasan, melainkan untuk dicintai. Hargailah wanita, karena  wanita dilahirkan untuk mengubah airmata menjadi senyuman. Dengan lain kata, wanita mendekatkan surga ke bumi. ***

*Penulis: Siswa Kelas I SMAK Frater Maumere. Peraih Juara I Lomba Karya Tulis Divisi Perempuan Tim Relawan Untuk Kemanusiaan Flores (TRuK-F) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. (Sumber: Suara Flores).
Share:

Pages

Generasi Muda

Generasi Muda

Bunda Segala Bangsa Nilo. Salah satu lokasi shooting film tiga dara

Bunda Segala Bangsa Nilo. Salah satu lokasi shooting film tiga dara

KRISTUS RAJA

KRISTUS RAJA